Apakah Yang Berkurban Cuma Untuk Orang Kaya Saja? Berikut Penjelasannya Seputar Batas Kesanggupannya

Qurban ialah amalan ibadah yang sangat disarankan. Hukum berkurban ialah sunnah muakkad artinya sunnah yang sangat disarankan bagi umat Islam.

Kecuali bernilai pahala, ibadah qurban ini memberikan kesadaran bagi kita akan pentingnya saling membantu antar sesama.

Berkurban juga menjadi bukti keimanan seorang hamba kepada Allah yang mencakup keikhlasan sebab sukses menaklukkan kepentingan pribadi demi menjalankan instruksi-Nya.

Oleh sebab itu, qurban menjadi salah satu https://coloradoteardropcamper.com/ ibadah yang sangat mulia dan agung dalam Islam. Malah tidak ada ibadah yang paling disenangi oleh Allah pada Hari Raya Idul Adha selain berqurban.

Kendati demikian, sebab setiap orang mempunyai finansial dan kebutuhan yang berbeda, banyak dari kita yang kadang tidak berkurban ketika sudah mencapai waktunya.

Lantas, seperti apakah ukuran bagi seseorang yang dikatakan sudah kapabel untuk berkurban? Berikut ulasan selengkapnya sebagaimana diinfokan dari web NU Online.

Batas Sanggup Berkurban
Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya mengancam orang-orang yang kapabel untuk berkurban namun lalai dalam menunaikannya untuk tidak mendekati daerah shalat hari raya Idul Adha. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah, Nabi bersabda:

Artinya: “Siapa saja yang mempunyai kecakapan (keluasan rizki), kemudian ia tidak berkurban, karenanya jangan dekati daerah shalat kami (shalat Idul Adha).”

Terkait dengan kriteria atau batasan kapabel seseorang dalam berkurban, Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi dalam salah karyanya mengatakan bahwa yang dimaksud sudah kapabel ialah ketika seseorang mempunyai kelapangan rezeki yang lebih dari kebutuhan dirinya, dan kebutuhan keluarganya, terhitung semenjak hari raya Idul Adha sampai berakhirnya hari tasyrik (tanggal 13 Dzulhijjah). Dalam kitabnya disebutkan:

Artinya: “Sangat disunnahkan bagi orang yang kapabel untuk berkurban. Dan yang dimaksud dengannya (yang kapabel) ialah orang yang kapabel untuk berkurban, yang lebih dari keperluannya dan kebutuhan keluarganya pada hari raya dan hari tasyrik, sebab di hari itulah waktunya berkurban.” (Syekh Syata ad-Dimyathi, Hasiyah I’anah at-Thalibih, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], juz II, halaman 376).

Artinya: “Sangat disunnahkan bagi orang yang kapabel untuk berkurban. Dan yang dimaksud dengannya (yang kapabel) ialah orang yang kapabel untuk berkurban, yang lebih dari keperluannya dan kebutuhan keluarganya pada hari raya dan hari tasyrik, sebab di hari itulah waktunya berkurban.” (Syekh Syata ad-Dimyathi, Hasiyah I’anah at-Thalibih, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], juz II, halaman 376).

Pendapat senada juga dipersembahkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 974 H) dalam salah satu karyanya, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, mengatakan bahwa batasan seseorang dikatakan kapabel untuk berkurban ialah ketika sudah mempunyai rezeki yang lebih untuk dirinya dan keluarganya, mulai dari pakaian dan makanan, semenjak hari raya Idul Adha sampai tiga hari setelahnya (hari tasyrik).

Lebih lanjut, berdasarkan Imam Ibnu Hajar alasan seseorang dikatakan kapabel ialah ketika sudah mempunyai rezeki yang lebih dari keperluannya, sebab kurban ialah bagian dari sedekah. Sebab bagian dari sedekah, karenanya orang yang hendak berkurban semestinya tercukupi segala keperluannya mulai dari hari raya sampai hari tasyrik,

Artinya, “Dan semestinya lebih dari keperluannya sendiri dan kebutuhan keluarganya, sebab kurban bagian dari sedekah.” (Ibnu Hajar, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], juz IV, halaman 47).

Dari sebagian penjelasan ini bisa disimpulkan bahwa batas atau kriteria seseorang dikatakan kapabel untuk berkurban ialah sekiranya sudah mempunyai rezeki yang lebih dari keperluannya, bagus kebutuhan dirinya ataupun kebutuhan keluarganya. Seandainya tidak, karenanya ia tergolong orang-orang yang tidak kapabel untuk berkurban. Wallahu a’lam.

Добавить комментарий